Archive for February, 2006

Batas Kesabaran

Thursday, February 23rd, 2006

Dalam al-Qur’an surah Fusshilat : 49 dikatakan :
"Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa
malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan".
Putus asa adalah sifat
yang tercela. Tidak selayaknya seorang mu’min berputus asa dalam segala hal,
baik dalam berdo’a kepada Allah maupun dalam menghadapi kehidupan ini.

Ketika kita berdo’a kepada Allah, maka tidak terlepas dari
dua kemungkinan, dikabulkan atau tidak. Kalau dikabulkan kita harus segera
bersyukur kepada Allah. Namun bila merasa belum dikabulkan, kita tidak dibolehkan
cepat-cepat berkeyakinan bahwa do’a kita tidak dikabulkan Allah.

Ada beberapa kemungkinan
yang terjadi. Mungkin do’a kita belum dikabulkan Allah, atau Allah akan
mengganti dengan yang lebih baik dari yang kita minta, atau mungkin diri
kita belum siap atau tidak layak untuk mendapatkan permintaan kita.

Itulah, maka doa yang kita panjatkan kepada Allah, hasil dan
buahnya tidak bisa kita ukur dengan waktu. Rasulullah pernah berdo’a "Ya
Allah berilah petunjuk kaumku, karena mereka banyak yang bodoh".
Apa yang
terjadi, apakah semua kaumnya beriman? Ternyata sampai Rasulullah wafat pun
masih banyak kaumnya yang tidak beriman, namun Rasulullah tidak berputus asa
dan terus berusaha bahkan berpesan kepada umatnya agar meneruskan
perjuangannya.

Dalam sebuah hadist Rasulullah mengatakan : "Mintalah
karunia Allah, karena Allah senang kalau dimintai sesuatu dan sebaik-baik
ibadah adalah menunggu dibukanya kesulitan kita" (H.R. Tirmizi).

Itulah sebaik-baik ibadah, menunggu hingga dihilangkannya
kesulitan dan kesedihan kita dan tidak mengeluh kepada selain Allah.

Sikap seorang mu’min yang baik adalah yang tidak mudah
berputus asa dan tidak mudah kecewa, senantiasa besar hati dalam menerima
apapun yang dialami dan dideritanya, karena itu semua atas kehendak Allah. Maka
dalam ayat lain dikatakan bahwa sikap berputus asa adalah sikap orang kafir (al-Ankabut:
23). Ini karena mereka yang berputus asa atas rahmat Allah telah menentang
kehendak Allah dan ingin memaksa Allah dengan kehendaknya.

Wallahu ‘alam bishowab.

Tiga Neraka Dunia

Friday, February 17th, 2006

1. Rasa iri.
Orang yang “terbelenggu” rasa iri, hidupnya
tersiksa. Tak pernah tentram. Kalau ada orang lain berhasil hatinya panas
selalu “terbakar.” la ingin kesenangan, keberhasilan, dan prestasi orang lain
pindah kepadanya, Sayang dia lupa bahwa prestasi hanya bisa diraih orang yang
kerja keras punya potensi dan kata relasi. Tuhan “bersembunyi” di balik
prestasi. Dia tak akan menampakkan diri, tetapi orang yang punya ketajaman
ruhani akan tahu bahwa keberhasilan seseorang juga karena pertolongan‑Nya.
Agaknya, dunia masih “kaya” orang yang hidupnya selalu iri. Mereka selalu
mencari‑cari kesalahan dan kelemahan orang lain. Kesalahan dan kelemahan tadi
dipolitisir sehingga tampak besar. Jadilah isu yang kemudian berkembang pesat.
Penyakit iri, jika dibiarkan akan semakin parah. Dia lupa bahwa iri tanda tak
mampu. Dari sana maka jadilah dia masuk neraka dunia yang kedua.

2. Dengki.
Sifat ini punya tanda, kalau ada orang sukses,
berprestasi, dsb hatinya sakit. Sebaliknya, dia merasa senang kalau ada orang
jatuh, gagal, dan gulung tikar, Orang dengki hatinya gelap. Dia tidak jujur
pada diri dan orang lain. la selalu memandang orang lain jelek. Sebenarnya
dirinya yang tidak baik. ia sibuk menjelek‑jelekkan orang lain, tidak pernah
puas selalu begitu entah apa yang dicari.

Gelapnya ruangan mudah disinari, Tetapi gelapnya hati tak
mampu diubah hanya dengan bola lampu, tetapi harus dicuci dengan iman, dan
peringatan Tuhan dalam bentuk musibah, bencana dan teguran lain.

3. Hasut.
Dari iri, meningkat menjadi dengki, dari dengki naik lagi
ke neraka ketiga bernama hasut, Ini puncak “kesalahan” nafsu. Orang tak
bersalah dianggap lawan yang selalu ingin menyerang atau merebut prestasi
dirinya. Maka, menyusun kekuatan baik sendiri maupun melibatkan orang lain
untuk menjatuhkan orang yang dianggap “membahayakan” dirinya. Orang yang
diwarnai hasut, hidupnya tidak akan pernah damai, Hatinya selalu gelisah. Dia
lupa usia yang dimiliki terbatas, semestinya dia sibuk mencari kekurangan diri,
bukan kekurangan orang lain. Tetapi yang terjadi sebaliknya, dia mencari
kekurangan orang lain untuk lebih dijatuhkan lagi.

Di balik ketiga neraka (iri, dengki, dan hasut) bagi orang
bijak ada hikmahnya. Menghadapi orang iri yang tidak rela akan prestasi orang
lain, disikapinya dengan baik. Dia tidak pamer keberhasilan. Toh prestasi itu
bukan untuk dibanggakan, sebab tanpa membanggakan diri orang lain sudah
mengakuinya. Terhadap orang dengki yang antara lain mengoreksi kekurangan agar
jatuh, dia justru “bersyukur.” Sebab dengan koreksi itu, dia bisa mengoreksi
diri sendiri. Dia akan tahu di mana kekurangan dirinya. Dari sana kemudian
sibuk memperbaiki diri dengan kebaikan.

Sedang terhadap orang hasut, dibiarkan saja. Sebab separah
apapun hasutan, jika kita benar maka akan seperti mutiara meski dijatuhkan ke
dalam lumpur akan tetap sebagai mutiara. Sehebat apapun hasutan orang lambat
atau cepat akan reda juga. Nah, saat itu mutiara akan tampak cemerlang,

Maka, sebaiknya kembali kepada jati diri sebagai insan
kamil, yaitu insan yang berjiwa bersih, menjauhi diri dari ketiga neraka dunia
agar kita bisa menikmati surga dunia dan terlebih nanti surga akhirat. Semoga.

Wallahu ‘alam bishowab.

Sepuluh Kualitas Pribadi yang Disukai

Friday, February 10th, 2006

 1. Ketulusan

Ketulusan
menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh
semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai
karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang
yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada,
pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya
"Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila
ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor
ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa
merugikan diri sendiri.


2. Rendah Hati
Beda
dgn rendah diri yg merupakan kelemahan, kerendahhatian justru
mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa
bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin
menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai
keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke
dan membuat orang yang di bawahnya tidak merasa minder.


3. Kesetiaan

Kesetiaan
sudah menjadi barang langka & sangat tinggi harganya. Orang yg
setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janji,
punya komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka berkhianat.


4. Bersikap Positif

Orang
yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari
kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih
suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka
bicara mengenai harapan drpd keputusasaan, lebih suka mencari solusi
daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.


5. Keceriaan

Karena
tidak semua orang dikaruniai temperamen ceria, maka keceriaan tidak
harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh tapi sikap hati. Orang yang
ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan
selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi,
orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan
mendorong semangat orang lain.


6. Bertanggung Jawab

Orang
yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan
sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.
Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk
disalahkan.

Bahkan
kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan
siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab
atas apapun yang dialami dan dirasakannya.


7. Kepercayaan Diri

Rasa
percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana
adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang
percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang
baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan
baik.


8. Kebesaran Jiwa

Kebesaran
jiwa dapat dilihat dr kemampuan seseorang memaafkan orang lain. Orang
yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci
dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar,
tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.


9. Easy Going

Orang
yang easy going menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka
membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan
masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak
mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan
masalah-masalah yang berada di luar kontrolnya.


10. Empaty

Empati
adalah sifat yg sangat mengagumkan. Orang yg berempati bukan saja
pendengar yang baik tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang
lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik
bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya
sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Amalan Di Bulan Muharram

Wednesday, February 8th, 2006

Dalam kitab I‘anatut Thalibin, salah satu kitab yang banyak
digunakan dalam mazhab Asy-Syafi‘iyyah, pada jilid 2 hal 267,
disebutkan bahwa memang banyak amal-amal yang sering dilakukan pada
momentum bulan Muharram. Namun penyusun kitab ini mengatakan bahwa
hanya dua saja yang memiliki dasar kuat yaitu sunah puasa dan meluaskan
belanja. Sedangkan selebihnya kebanyakan haditsnya dahif dan sebagian
lagi mungkar maudhu‘.

Yang berkaitan dengan puasa adalah puasa
sunah yaitu pada hari kesepuluh dan kesembilan di bulan itu. Sering
juga disebut dengan ‘Asyuro dan Tasu‘a. Banyak sekali dalil yang
menerangkan hal ini, antara lain:

Dari Abu Hurairoh RA ia
berkata: Rasulullah SAW telah bersabda: "Shaum yang paling utama
setelah shaum Ramadhan adalah shaum dibulan Alloh Muharram. Dan sholat
yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam"
(HR Muslim
1162)

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah bin Abi
Sufyan RA berkata: "Wahai penduduk Madinah, dimana ulama kalian? Aku
mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Ini hari Assyura, dan Alloh tidak
mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya shaum, maka
siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau berbuka
hendaklah ia berbuka"
(HR Bukhori 2003)

Rasulullah SAW bersabda:
"Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan orang Yahudi.
Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya"
(HR Thohawy
dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095)

Sedangkan amal lainnya "selain puasa dan meluaskan belanja- sebagaimana disebutkan oleh
An-Nawawi, adalah amal yang dasar hukumnya lemah.

Beliau "An-Nawawi- mengutip nazham yang disusun anonim (tanpa nama pengarang)
berkaitan dengan amalan di bulan Muharram itu yaitu:

Puasalah,
Shalatlah, Silaturrahim-lah, kepala anak yatim usaplah, bersedekahlah,
mandilah, luaskan belanja, potonglah kuku, kunjungi ulama, tengoklah
orang sakit, pakailah celak mata, bacalah surat Ihklas 1000 kali.

Sebenarnya
amal-amal itu semua baik-baik saja, selama tidak dikaitkan dengan
momentum tertentu. Sehingga yang jadi titik masalah adalah dikaitkannya
amal-amal itu dengan momen Muharram dengan keyakinan bahwa bila
dilakukan di waktu lain, tidak sebesar itu pahalanya. Karena dasar
haditsnya memang lemah, bahkan sebagian dhaif dan mungkar.

Wallahu A‘lam Bish-Showab

Puasa Sunnah di Bulan Muharram

Wednesday, February 8th, 2006

Yang disunnahkan secara tegas adalah berpuasa pada tanggal 10 Muharram
dan sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Dan sering disebut juga
juga dengan Shaum Asyuro.

Pada asalnya Shaum Asyuro ini adalah wajib. Kemudian kewajibannya
dinasakh dengan kewajiban shaum Ramadhan, maka shaum tersebut berubah
hukumnya menjadi sunnah. Oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan
kepada umat Islam untuk melaksanakan shaum assyuraa (shaum hari
kesepuluh) dari bulan Muharram ditambah dengan shaum sehari sebelumnya
atau sesudahnya. Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang diriwayatkan
para sahabat. Antara lain:

Dari Humaid bin Abdir Rahman, ia mendengar Muawiyah
bin Abi Sufyan RA berkata: "Wahai penduduk Madinah, dimana ulama
kalian? Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Ini hari Assyura, dan
Alloh tidak mewajibkan shaum kepada kalian di hari itu, sedangkan saya
shaum, maka siapa yang mau shaum hendaklah ia shaum dan siapa yang mau
berbuka hendaklah ia berbuka"
(HR Bukhori)

Juga ada hadits lainnya berikut ini :

Dari
Ibnu Abbas RA, ia berkata: ketika Rasulullah SAW tiba di kota Madinah
dan melihat orang-orang Yahudi sedang melaksanakan shaum assyuraa,
beliau pun bertanya? Mereka menjawab: Ini hari baik, hari di mana Allah
menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka lalu Musa shaum pada hari
itu. Maka Rasulullah SAW menjawab: "Aku lebih berhak terhadap Musa dari
kalian", maka beliau shaum pada hari itu dan memerintahkan untuk
melaksanakan shaum tersebut.
(HR Bukhori 2004)

Dari
Ibnu Abbas RA, ia berkata: pada saat Rasulullah SAW melaksanakan shaum
Assyura dan memerintah para sahabat untuk melaksanakannnya, mereka
berkata: "Wahai Rasulullah hari tersebut (assyura) adalah hari yang
diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashrani". Maka Rasulullah SAW
bersabda: "Insya Allah jika sampai tahun yang akan datang aku akan
shaum pada hari kesembilannya". Ibnu Abbas berkata: "Rasulullah SAW
meninggal sebelum sampai tahun berikutnya"
(HR Muslim 1134)

Rasulullah
SAW bersabda: "Shaumlah kalian pada hari assyura dan berbedalah dengan
orang Yahudi. Shaumlah kalian sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya"

(HR Thohawy dan Baihaqy serta Ibnu Huzaimah 2095)

Adapun
keutamaan shaum tersebut sebagaimana diriwayatkan dalam hadits dari Abu
Qatadah, bahwa shaum tersebut bisa menghapus dosa-dosa kita selama
setahun yang telah lalu (HR Muslim 2/819)

Imam Nawawy ketika
menjelaskan hadits di atas beliau berkata: "Yang dimaksud dengan
kafaraoh dosa adalah penghapus dosa-dosa kecil, akan tetapi jika orang
tersebut tidak memiliki dosa-dosa kecil diharapkan dengan shaum
tersebut dosa-dosa besarnya diringankan, dan jika ia pun tidak memiliki
dosa-dosa besar, Allah akan mengangkat derajat orang tersebut di
sisi-Nya"
.