Batas Baca

Ada bookmark atau bookmarker. Istilah dari
bahasa Inggris itu merujuk pada benda yang dipakai untuk menandai halaman buku.
Belakangan istilah itu dipakai juga dalam komputer dan internet. Itulah entry
atau icon yang dibuat oleh pengguna computer sebagai shortcut ke tampilan yang
dibuka sebelumnya.

 

Saya membuka Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001). Sayang, saya tak menemukan istilah yang sepadan dengannya.
Namun dalam komunikasi sehari-hari, sering kita temukan istilah "pembatas
buku". Sering juga kita mendapatkan istilah "batas baca".
Agaknya, kedua istilah itu mengandung pengertian yang sepadan dengan pengertian
kedua kosa kata Inggris itu tadi.

 

Bagaimanapun, sebelum menemukan
istilahnya, kita telah menemukan barangnya. Buku-buku yang tebal dan tergolong
hardcover, misalnya, biasanya dilengkapi dengan seutas pita. Salah satu ujung
pita menempel pada bagian dalam punggung buku. Pembatas buku seperti ini
benar-benar merupakan bagian dari raga buku, melekat erat alias tak mudah
lepas. Sedangkan buku-buku dari golongan paperback, apalagi yang tipis,
lazimnya tak dilengkapi pita. Pembatas buku harus didatangkan dari luar buku
itu. Tanpa pembatas buku, pembaca yang gegabah sering merusak buku. Biasanya,
tanpa pikir panjang, ia melipat salah satu sudut halaman yang terakhir dibaca.
Kerusakan yang ditimbulkannya tidak mustahil tak terpulihkan, apalagi jika si
pembaca meninggalkannya dalam waktu lama. Pembaca yang gegabah juga sering
menaruh buku yang sedang dibaca dalam posisi menungging: punggungnya di atas,
halamannya terbagi dua bak kaki tenda.

 

Padahal untuk menyediakan
pembatas buku, tidaklah sukar. Dengan secarik kertas bekas pun,
jadilah.Pembatas buku memang kecil dan sederhana. Bentuk benda itu lazimnya
memanjang, seperti mistar. Namun ada juga yang berbentuk bulat dan pipih, yang
diberi celah pada permukaannya agar halaman buku bisa diselipkan. Biasanya
permukaan benda itu halus. Selain halus, benda itu juga tipis, tapi biasanya
tidak terlalu tipis, setidaknya sedikitlebih tebal daripada kertas halaman
buku. Galibnya, pembatas buku hanya terdiri dari satu helai. Namun ada juga
pembatas buku yang terdiri dari dua helai dengan salah satu ujungnya menyatu,
seperti penjepit.

 

Biasanya, pembatas buku terbuat
dari kertas. Namun ada juga yang terbuat dari kulit, logam, kayu dsb.
Bahan-bahan sisa, semisal sisa kertas cover buku,tak jarang dimanfaatkan untuk
dijadikan pembatas buku. Sebagian penerbit tak hanya mengeluarkan buku,
melainkan juga mengeluarkan pembatas buku. Biasanya benda itu disertakan pada
setiap buku yang dipasarkan. Desain perwajahannya biasanya serupa dengan desain
perwajahan buku itu sendiri, dilengkapi pula dengan logo dan alamat
penerbitnya. Penerbit Qanita, contohnya, menyertakan pembatas buku pada buku
Samurai (2005, dua jilid, masing-masing lebih dari 700 halaman) karangan
Takashi Matsuoka. Bahannya dari kertas, setebal cover buku itu sendiri, dan
bentuknya seperti penjepit.

 

Selain penerbit, kedai atau toko
buku yang kreatif biasanya mencetak pembatas buku pula. Di tangan mereka, benda
kecil dan sederhana itu tampaknya selain dijadikan bagian dari layanan terhadap
konsumen, diandalkan pula sebagai media promosi tersendiri. Kedai buku Omunivum
di Bandung, misalnya, membikin pembatas buku yang selalu disertakan pada buku-buku
yang terjual, di samping kantong plastik yang berlogo kedai itu. Tak jarang
pula pembatas buku dijadikan cendera mata. Sewaktu mengunjungi upacara
pernikahan teman saya, beberapa tahun lalu, pernah saya memperoleh cendera mata
dari kulit tipis. Desainnya menyerupai wayang kulit kecil, dan dimaksudkan
sebagai pembatas buku.

 

Sebagian pembaca, terutama para
pengkaji, sering memakai lebih dari satu batas baca untuk sebuah buku. Biasanya
mereka menggunakan perkakas berupa serpihan kertas yang salah satu permukaannya
mengandung perekat. Perlengkapan itu mirip stiker atau plester, tapi mudah
ditanggalkan, tanpa merusak halaman buku. Ditilik dari fungsinya, pembatas buku
tentu bisa dipakai untuk menandai halaman terakhir yang kita baca, atau
menandai halaman yang sewaktu-waktu perlu kita buka lagi. Terlebih-lebih untuk
buku-
buku yang tak dilengkapi dengan indeks, penggunaan pembatas buku jelas akan
memudahkan pencarian informasi atau keterangan dalam buku.

 

Namun, rasanya, arti penting
pembatas buku atau batas baca bukan hanya itu. Boleh jadi, melebihi fungsinya,
benda itu telah menjadi ikon tersendiri. Bagi para penerbit atau lembaga
perbukuan lainnya, tidak mustahil benda itu juga jadi bagian dari corporate
culture pula. Dengan menyediakan pembatas buku, mungkin mereka ingin menekankan
bahwa mereka tak sekadar menjual buku, melainkan juga berupaya melayani
segi-segi lain dari kepentingan pembaca. Buat pembaca sendiri, bisa saja benda
kecil dan sederhana itu merupakan salah satu pertanda rasa cinta mereka pada
buku. Pembaca yang biasa menggunakannya, kiranya tergolong pembaca yang apik,
tak suka merusak buku.

 

Tidak mustahil pembatas buku atau
batas baca juga turut menegaskan adanya keasadaran akan tipisnya ingatan.
Seringkali kita teringat pada isi sebuah buku tapi tak bisa memastikan di
halaman mana letaknya. Selain itu, pembatas buku atau batas baca rasanya ikut
menegaskan keterbatasan waktu kita. Sayang, memang, kita tidak bisa membaca
sepanjang waktu. Selalu ada saatnya untuk jeda, dengan harapan bisa kembali
lagi ke halaman yang terpaksa kita tinggalkan.

Leave a Reply