Pada kumpulan National Gographic
1983. Disitu ada Gambar besar yang terlipat: Journey Into The Universe Through
Time And Space.
Pada gambar itu dijelaskan bahwa
:
- Tata surya kita, dengan Matahari sebagai Porosnya.
Ternyata hanya merupakan salah satu titik dari tetangga Matahari yang berjumlah
sekitar 20 an.
- Sedangkan Rangkaian kumpulan Matahari ini, ternyata
hanya satu titik kecil dari Milky Way Galaxy, yang jutaan jumlahnya.
- Sedangkan Milky Way Galaxy, hanya satu titik dari Lokal
Group, yang berisi puluhan Galaxy. Salah satu yang dikenal bernama Andromeda.
- Disisi lain, ternyata Kumpulan Galaxy-galaxy itu /
Lokal Group, terlihat seperti Armada Laut yang ber-gerombol2 di dalam Lokal
Supercluster, dengan jumlah yang ribuan banyaknya. Dan kelompok / gerombolan
terbesar = dikenal sebagai Virgo yang jaraknya 50 juta tahun cahaya dari bumi.
- Supercluster yang sudah demikian amat sangat besar,
ternyata digambarkan hanya merupakan satu titik kumpulan dari The Universe.
Hercules, Indus, Perseus, Coma dan masih
banyak lagi adalah tetangga2 Lokal Supercluster yang ada di dalam The Universe.
- The Universe yaitu = Suatu area ‘lempengan’ terjauh
& terluas, yang dapat dideteksi oleh perangkat teleskop paling canggih,
yang dibuat manusia saat ini. Posisi The Universe, dari hari ke hari, sejak
lama selalu pada tempat yang sama. Kesimpulan para ahli perbintangan: The
Universe = Lempengan = Tidak mempunya Pusat / Poros.
- Semua gambaran dan Pengelompokan No 1 s/d 5 di atas,
ditentukan para ahli berdasarkan Jarak masing2 benda langit yang terdeteksi
teropong. Sedangkan radius ‘Lempengan’ The Universe berjarak 20 Miliard tahun
cahaya.
Apa makna dari
hasil penemuan Para Ahli Peneropongan Bintang tersebut ?
Untuk sementara
para ahli peneropongan bintang menganggap bahwa The Universe adalah yang
terbesar. Dari sisi ini saja, dapat kita pahami, kenapa Manusia tidak boleh
membayangkan bentuk Allah SWT, karena:
- Kita tidak akan mampu. Bagaimana bisa
mampu ?, membayangkan Ciptaan Allah SWT berupa The Universe yang demikian besar
saja dibandingkan dengan bumi tempat kita berpijak. Sudah tidak mampu. Apalagi
Allah SWT sebagai penciptanya.
- Kalau kita membayangkan bentuk / rupa Allah SWT,
berarti kita sudah syirik, karena kita sudah membuat duplikat (men dua kan) Allah SWT, dengan
bentuk / rupa, yang kita bayangkan tersebut.
Dengan gambaran di atas: Kita
dapat sedikit lebih memahami: Q.S. Al-Waqiah : 75 & 76: Bahwa: Allah bersumpah
dengan terbenamnya Bintang, dan selanjutnya Allah SWT berfirman: Sumpah (Allah)
itu adalah sumpah yang sangat besar, jika kamu mengetahui.
Pada salah satu Hadist Nabi
Muhammad: Orang Iman (mempercayai Kebesaran Allah SWT), bila disebutkan ‘Allahu
Akbar’ (Allah MAHA BESAR), maka hatinya akan bergetar.
Mudah-mudahan dengan adanya
pembuktian sedikit saja dari KEBESARAN Allah SWT sebagai pencipta Alam semesta,
hati kita dapat bergetar (sebagaimana layaknya ciri orang beriman) dan lebih
menyadari: Betapa Maha Besarnya / Akbarnya Allah SWT pencipta Alam Semesta ini,
dimana bumi dan diri kita, hanya bagian yang amat sangat kecil sekali.
Sehingga kitapun akan dapat lebih
meyakini, kalau Allah SWT berkehendak maka dalam sekejap seluruh manusia akan
dibinasakan, apa susahnya membinasakan suatu mahluk, yang amat sangat kecil
jika dibandingkan dengan alam semesta ciptaan NYA.
Surga hanya bagi orang yang
diberi rahmat / dikasihi / dipilih oleh Allah SWT (bukan karena pahala, (bayangkan
apa arti sebuah pahala dari mahluk yang demikian kecil, dibandingkan alam
semesta ciptaannya ini).
Ini baru dari hasil penemuan Ahli
Peneropongan Bintangan saja, yang mungkin mereka sendiri tidak atau belum membaca
ajaran agama yang intinya HANYA UNTUK mengajak agar manusia mengagungkan Allah
SWT pencipta Allam Semesta ini. Dan mengajak kita agar jangan sampai menduakan
/ syirik pada Allaw SWT.
Tetapi sifat manusia, yang suka
tidak tahu diri / merasa sombong / merasa hebat, hanya karena DIIJINKAN oleh
ALLAH SWT memiliki suatu yang dianggapnya ‘KELEBIHAN’.
Semoga dengan membayangkan hasil
penemuan teknologi Peneropongan Bintang ini, saat kita bangun di 1/3 malam yang
akhir, saat kita menengadahkan kepala dan melihat langit yang cerah, dengan
jutaan kerlap-kerlip bintang, dan berkata : Ya Allah, tak kau ciptakan semua
ini dengan sia-sia. Kita dapat mencucurkan air mata (karena menyadari keagungan
ALLAH dan kekecilan diri kita, bukan karena ketakutan pada penagih hutang, dan
bukan karena ketakutan pada hal-hal duniawi lain), serta menyadari, betapa kita
hanya sangat kecil dibandingan dengan ciptaan NYA yang lain, kenapa masih ada
sebutir kesombongan di dalam hati kita, yang sebenarnya tidak ada yang pantas
kita sombongkan, karena semua kebisaan kita pun hanya karena ada ijin NYA. Dan
kenapa kita masih berupaya merekayasa perintah NYA, dan berupaya menaikkan
derajat kita, dengan cara melakukan pengingkaran sebagian ayat-ayat NYA. Kenapa
kita tidak mau masuk kedalam agama Allah SWT secara menyeluruh, dengan segala
kepasrahan, sebagai hamba dan ciptaan NYA semata ? Apa sebenarnya
kebanggaan yang pantas menyebabkan diri kita menjadi sombong ? dan
menentang NYA ?
Wallahu ‘alam bishowab